Malik al-Rum itu, besar kemungkinannya Basil II, akhirnya memenuhi keinginan sang diplomat. "Bangunan itu diperbuat dari marmar dan batu berwarna-warni," kata Ibn Shahran. "Di dalamnya terdapat tulisan dan pahatan yang belum pernahku dengari menyaingi kehebatan dan kecantikkannya. Di dalamnya juga ada kitab-kitab kuno yang banyaknya memerlukan unta-unta untuk membawanya." Al-Nadim mencelah mengatakan Ibn Shahran membesar-besarkan jumlah kitab dalam kuil tersebut sehingga memenuhi seribu unta. "Sebahagin buku-buku itu telah buruk dan sebahagian masih baik. Ada yang telah dimakan anai-anai. Aku melihat peralatan upacara ibadat yang diperbuat dari emas dan lain-lain barang nadir." Setelah Ibn Shahran keluar pintu-pintu itu ditutup dan dikunci kembali dan dia berasa malu dengan keistimewaan yang diberikan oleh raja Rom. Kuil tua itu terletak sejauh tiga hari perjalanan dari Qastantiniah (Constantinople), di wilayah yang didiam oleh orang-orang Kaldanin (Chaldean) yang beragama Sabian. Kerajaan Rom mengutip cukai dari mereka tetapi membiarkan mereka dengan agamanya.